Hati-hati Menjadi Seperti Bani Israil



Kita semua yang pernah atau sedang mengenyam pendidikan di pondok pesantren pasti mengerti bahwasanya ada ayat di al qur'an yang berbunyi :





وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نَصْبِرَ عَلَىٰ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۖ قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَىٰ بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ ۚ 

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? 

(Surat Al Baqarah Ayat: 61)

Pada ayat itu dijelaskan bahwasanya Bani israil tidak merasa puas dengan makanan dari langit yang berupa manna, dan salwa. Mereka menuntut kepada nabi Musa agar beliau berdoa memohonkan allah menurunkan jenis makanan lain.

Selain mempunyai sifat terlalu banyak bertanya, Bani Israil juga mempunyai sifat tidak pernah puas dengan apa yang nabi mereka berikan. Mereka selalu menuntut dan menuntut, hingga pada titik tertentu karena saking tidak puasnya mereka bahkan sampai membunuh nabi mereka.

Namun, sifat bani Isra’il yang ingin ana bahas kali ini adalah : Tidak pernah merasa puas dengan rezeki yang ada. Terutama pada hal makanan.

Sifat seperti bani israil adalah tak pernah puas terhadap makanan yang sudah tersedia, dan tanpa kita sadari sifat itu ternyata dapat kita dapati dalam diri kita saat menjumpai makanan dari pondok yang kadang tidak sesuai dengan selera kita.

Tidak suka pada suatu makanan adalah hal yang lumrah, namun menuntut untuk mengganti makanan yang sudah tersedia bisa dikatakan hampir sama seperti sifat bani Israil yang tertera pada surat al-baqarah tadi. Namun, berbeda memang sebelum makanan itu ada kita di tanya ingin makan apa. Walau, seringkali bila ditanya “mau makan apa?” jawabannya “Terserah.”

Setiap pondok pesantren memang pastilah berbeda dalam menentukan menu makanan untuk para santrinya. Perbedaan yang paling mendasar adalah dari berapa banyaknya syahriyah (baca: SPP) yang dibayarkan oleh masing-masing wali santri di awal atau akhir bulannya.

Gampangnya, semakin banyak syahriyah yang dibayarkan maka, menu makanannya akan semakin beragam. Sebaliknya, apabila syahriyah yang dibayarkan tidak cukup banyak maka, pilihan menu yang harus disediakan oleh bagian dapur akan semakin sedikit.

Namun diluar semua itu, sifat kita yang memang pada dasarnya tidak pernah puas akan selalu menuntut yang lebih dan lebih. Seperti halnya Bani Israil kepada nabi Musa.
Dulu, ana sendiri adalah orang yang suka mengkritik makanan dapur. Entah kurang garam, atau terlalu sedikit, atau bahkan karena membosankan itu-itu saja.

Namun, ana tersadar pada saat ana bertemu dengan adik kelas ana yang daerah asalnya adalah Ambon.

Dia bercerita bahwasanya tanggapan orang-orang yang mengatakan bahwa makanan pondok selalu tidak enak disikapi olehnya terbalik. Mengapa? Karena sebelumnya saat dirumah tidak se-enak saat sudah dipondok.

Pada akhirnya, itulah sifat manusia. Tidak pernah puas dengan apa yang sudah tersedia. Bahkan yang paling parahnya adalah “selalu merasa kurang”.

Jadi, untuk kedepannya. Selalu bersyukurlah apabila sudah tersedia makanan apapun. Apabila memang tidak suka, cobalah terlebih dahulu bersabar. atau apabila punya uang saku yang lebih, maka membeli tambahan lauk bisa dijadikan sebagai solusi.

Namun, apabila antum merasa seperti ada kedzoliman dalam urusan ini, seperti : Membayar syahriyah mahal-mahal namun menu makanannya seperti tidak sesuai. cobalah antum konsultasikan hal ini pada ustadz yang bertanggung jawab.

Usahakan dengan mengutus satu atau dua orang, lalu membicarakannya bersama. Bukan dengan memprotes apalagi sampai pada tahapan menghina ibu/bapak dapur.

Mungkin, itu saja yang ingin sampaikan pada tulisan ana kali ini. Apabila ada yang tidak setuju atau ingin menambahkan silahkan saja tulis di kolom komentar.

Sekian, Jazakumullah.

Wassalam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

8 Tipe hukuman di pesantren

8 Tips jitu agar betah di pesantren

6 Tips Untuk Memanfaatkan Liburan